oleh

Program Transmigrasi di Tangsel Sepi Peminat

Kabar6-Animo masyarakat terhadap program perpindahan penduduk dari kota ke desa atau yang dikenal dengan transmigrasi, semakin rendah.

Warga merasa enggan ikut program pemerintah itu dengan alasan taraf beban hidup semakin terperosok, bukan lebih sejahtera.

“Jadi sekarang orang lebih milih jadi tukang minta-minta (pengemis) ketimbang ikut transmigrasi,” ujar Sekretaris Dinas Sosial Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Dewanto, saat ditemui wartawan di TPA Cipeucang, Kamis (26/9/2013).

Fenomena tersebut secara kasat mata dapat dilihat dari semakin menjamurnya salah satu penyakit masyarakat (pekat) tersebut.

Pada tahun 2013 ini, kuota sebanyak 10 KK untuk Pemkot Tangsel untuk memberangkatkan warga transmigran tidak mendapatkan respon.

Kenyataannya sangat sedikit warga yang mau untuk berangkat ke daerah rantau. “Sulit mencari orang yang mau ikut program transmigran dari Tangsel. Mereka lebih suka meminta-minta,” ujarnya.

Kondisi ini sendiri, terang Dewanto, tidak lepas dari pola fikir warga yang lebih memilih menjadi pekerja serabutan atau menjadi pengemis dan sejenisnya dibanding dikirim mengikuti program transmigrasi.

Padahal, terang Dewanto, apabila mengikuti program transmigrasi para peserta akan mendapatkan lahan 2 hektar.

Ditambah adanya jaminan kebutuhan hidup selama dua tahun, rumah dan fasilitas lain untuk berkebun maupun beternak.

Namun, karena merasa lokasi transmigrasi yang jauh, maka para warga mayoritas memilih bertahan di Kota Tangsel dengan kondisi ekonomi apa adanya.

“Kami terus sosialisasikan program transmigrasi agar tetap hidup. Syarat menjadi transmigran cukup mudah. Sudah berkeluarga, memiliki KTP Indonesia dan mau diberangkatkan,” terangnya.(yud)

Berita Terbaru