Pria Pembantai Istri dan Anak di Periuk Sempat Sembunyikan Barang Bukti

Pembantaian
Kapolrestro Tangerang, Harry Kurniawan saat conferensi pers kasus pembantaian satu keluarga di Periuk.(Sly)

Kabar6-Pelaku pembantaian satu keluarga di Perumahan Taman Kota Permai 2, RT 05/12, Kelurahan Periuk, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang, Senin (12/2/2018), kiranya sempat berupaya menghilangkan jejak kejahatannya.

Ya, usai membantai korban, Muktar Efendi juga sempat menyembunyikan barang bukti berupa senjata tajam yang digunakan untuk menghabisi nyawa korban di salah satu lemari pakaian, serta membuang 4 buah handphone milik korban yang sudah rusak ke atap rumah.

“Adapun keberadaan barang bukti itu baru diketahui setelah kami memeriksa pelaku di RS Polri Kramat Jati,” ujar Kapolrestro Tangerang Kombes Harry Kurniawan kepada wartawan, Selasa (13/2/2018).

Kapolrestro Harry juga menyebut, setelah menghabisi korban dan menyembunyikan barang bukti, pelaku yang merupakan suami siri dari korban Emma (40), kemudian berupaya bunuh diri dengan cara melukai dirinya sendiri menggunakan senjata tajam.

Diketahui sebelumnya, bila jasad satu keluarga yang terdiri dari seorang ibu bernama Emma (40), dan dua anaknya, Nova (20) dan Tiara (11), ditemukan terkapar tak bernyawa di dalam kamar rumahnya.**Baca juga:Pembantai Satu Keluarga di Periuk Terancam Hukuman Seumur Hidup.

Sementara, tubuh pelaku Muktar Efendi, yang merupakan suami dari korban Emma, ditemukan kritis di belakang rumah. Ada luka di perut dan lehernya.**Baca juga: Pembantaian Satu Keluarga di Periuk Bermotif Jual Beli Mobil.

“Hingga kini, pelaku Muktar Efendi, masih menjelani perawatan intensif di RS Polri Kramat Jati. Dan, sampai saat ini kondisinya masih lemah,” ujar Kapolres.**Baca juga: Pembantai Satu Keluarga di Periuk Ternyata Orang Dekat.

Atass perbuatannya, pelaku terancam dijerat dengan Pasal 338 KUHP junto Pasal 340 KUHP, dengan ancaman hukuman seumur hidup.(Sly)

INFO REDAKSI:
Berita ini sudah mengalami revisi pada bagian judul berita. Itu karena, terdapat kesalahan dalam penempatan kata. Revisi dilakukan untuk meluruskan agar tidak terjadi kesimpangsiuran bagi pembaca. Redaksi juga mohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi.