oleh

Perajin Tahu-Tempe Lebak Menjerit, Bea Masuk Kedelai Minta Dihapus

Kabar6-Sejumlah perajin tahu dan tempe di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, terancam bangkrut gara-gara kenaikan harga kedelai yang diimpor dari Argentina dan Amerika Serikat. Pemerintah diminta untuk menghapus bea masuk kedelai.

“Kami terpukul dengan kenaikan harga kedelai sehingga produksi menurun dan pendapatan merugi,” kata Adhari, seorang perajin tempe, warga Cibahbul Desa Rangkasbitung Timur, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Minggu (25/8/2013).

Ia mengaku, kenaikan bahan baku tempe saat ini berdampak buruk pada perajin tempe dan tahu. “Saat ini produksi tempe berkurang sekitar 50 persen akibat kenaikan kedelai di tingkat pengecer,” ujarnya.

Soleh, perajin tahu di Kelurahan Muara Ciujung Barat Kecamatan Rangkasbitung Kabupaten Lebak juga mengakui, perajin bingung atas kenaikan kedelai karena untuk memproduksi tahu atau tempe harus mengeluarkan modal dua kali lipat, sementara kebanyakan konsumen berasal dari kalangan masyarakat menengah ke bawah.

“Saya sendiri untuk bertahan hidup mengurangi biaya produksi tahu yang biasanya 80 kilogram kedelai, namun kini menjadi 40 kilogram,” kata Soleh.

Sementara itu, Aip Syarifudin, Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tahu dan Tempe Indonesia, mengatakan, pihaknya telah melayangkan surat kepada pemerintah terkait bea masuk kedelai.

“Kami sudah menyurati Menteri Keuangan dengan tembusan ke Menteri Perdagangan, kami minta bea masuk kedelai dinolkan dulu, karena sejak melemahnya nilai tukar rupiah, harga kedelai melonjak yang berdampak pada produksi tahu dan tempe,” kata Aip Syarifudin.

Disebutkan, sejak nilai tukar rupiah terhadap dolar melemah, harga kedelai impor terus naik. Harga normal kedelai yang tadinya Rp 7.700 per kilogram, kini berkisar Rp 8.500 per kilogram. Bahkan di tingkat perajin tahu dan tempe harga kedelai bisa menembus Rp 9.000 per kilogram.

Menurutnya, penghapusan sementara bea masuk kedelai akan dapat membantu menurunkan harga dan menambah jumlah pasokan di dalam negeri, sehingga produksi tahu-tempe dapat terjamin.

“Ini soal pangan, harusnya dimasukkan dalam paket penyelamatan ekonomi pemerintah,” ujar Aip.(bbs/jus)

Berita Terbaru