oleh

Peneliti BRIN Telisik Pemicu Gempa Cianjur dan Rekomendasinya

Kabar6-Bencana gempa di Cianjur, Jawa Barat, dengan magnitudo 5,6 kedalaman 10 kilometer mengakibatkan 58.049 rumah rusak. Banyak ahli mengatakan gempa ini adalah akibat dari pergerakan Sesar Cimandiri.

Perekayasa Madya Badan Riset dan Inovasi Nasional, Nur Hidayat mengungkapkan, sebelum bicara tentang Sesar Cimandiri, sebaiknya paham terhadap geologi regional Ciletuh. Erat menjadi kunci keterkaitan dengan proses tektonik regional Jawa Barat yang merupakan bagian dari Busur Sunda hasil dari interaksi Lempeng Hindia-Australia dengan Lempeng Eurasia.

“Yang memiliki karakteristik struktur yang khas yang membentuk sesar-sesar diantaranya adalah Sesar Cimandiri,” ungkapnya kepada kabar6.com di Setu, Kota Tangerang Selatan, Kamis (4/12/2022).

Jejak fosil dari penelitian sebelumnya, Nur Hidayat memaparkan, juga mengatakan bahwa subduksi jaman kapur erat kaitanya dengan pembentukannya. Hal yang menarik disini adalah beberapa peneliti meyakini bahwa Sesar Cimandiri merupakan sesar tertua yang aktif hingga sekarang akibat beberapa kali tektonik yang terjadi.

Sesar Cimandiri memiliki arah secara umum adalah N70o-80oE sepanjang Sungai Cimandiri yang hampir secara keseluruhan jejaknya tertutup oleh Endapan Volkanik Muda dengan panjang sekitar 100 km. Pendapat yang berbeda-beda juga disampaikan oleh beberapa peneliti ada yang mengatakan bahwa sesar Cimandiri adalah sesar mendatar dekstral sebagai hasil reaktivasi dari sesar-sesar tua ketika subduksi zaman di jaman Kapur.

Ada juga peneliti yang menyatakan bahwa Sesar Cimandiri adalah sesar naik pada akhir tersier atau post miosen tengah. Bahkan ada pula yang menyebut sebagai sesar normal berdasar hasil dari investigasi geologinya. Pada akhirnya Sesar Cimandiri dapat dikelompokkan menjadi 2 sesar regional, yaitu sesar naik yang dicirikan oleh deformasi lipatan batuannya dan sesar normal dengan ciri munculnya gawir sesar dengan kemiringan 50o.

“Nah itulah sedikit historis Sesar Cimandiri. Sesar Cimandiri tidak seperti yang dibayangkan berupa garis tegas yang menerus dan berarah Timur Laut-Barat Daya,” papar Nur Hidayat.

Namun sebenarnya berupa segmen-segmen sesar melintasi wilayah kabupaten-kabupaten Sukabumi, Cianjur, dan Bandung. Segmen-segmen Sesar Cimandiri ini telah sejak dahulu menjadi pusat-pusat gempa dan menyebabkan kerusakan di Kabupaten Sukabumi maupun Cianjur.

Nur Hidayat sebutkan, perbedaan pendapat penyebab gempa yang bukan oleh Sesar Cimandiri oleh beberapa ahli. Di antaranya adalah :

(1) penyebab gempa bukan dari sesar cimandiri karena pusat gempanya berada 10 km dari sisi terluar zona Sesar Cimandiri lebih tepatnya berada di area lereng tenggara Gunung Gede. Jika benar maka hal ini menjadi menarik karena sesar ini tentu memiliki pola mekanisme dan pola kompresi yang tentunya berbeda dengan pendahulunya. Sehingga perlu segera diteliti lebih detail untuk mengetahui jalur dan zonanya.

(2) Reaktivasi sesar tua yang merupakan cikal bakal Sesar Cimandiri namun tak terpetakan dengan baik karena tertutup endapan vulkanik.

(3) Pergerakan sesar orde ke sekian dari sesar utamanya. Sedangkan yang setuju bahwa gempa tersebut disebabkan oleh Sesar Cimandiri karena beberapa kali subduksi di selatan Jawa bagian barat sudah menimbulkan beberapa kali gempa baik di laut maupun di darat di zona Sesar Cimandiri. Selain itu zona Sesar Cimandiri itu sendiri belum terpetakan dengan tegas terutama investigasi bawah permukaan pada lapisan batuan dibawah sedimen kuarter yang mengalami rapture.

“Mengapa gempa itu begitu merusak bahkan getarannya dirasakan cukup kuat hingga jakarta dan sekitarnya?. Pusat gempa darat dangkal 10 kilometer,” sebutnya.

Nur Hidayat bilang, dimana gempa dangkal hiposentrumnya berada kurang dari 60 km dari permukaan. Gempa tersebut berada pada lapisan bagian atas dari kerak bumi yang tebal lapisannya ini tidak sama di semua tempat. Secara garis besar tebalnya berkisar antara 20 sampai dengan 50 kilometer.

Kedua, daerah yang terparah berada pada lembah dan perbukitan yang tersusun oleh sedimen vulkanik kuarter yang yang tidak stabil. Sehingga jika terjadi gempa maka teramplifikasi kuat bahkan pada lerengnya mengakibatkan longsor.

Konstruksi bangunan yang tidak tahan terhadap gempa. Hal yang harus menjadi pelajaran penting adalah kembali menelaah tata ruang khususnya pada area yang rawan terhadap gempa untuk di overlay dengan historis episenter gempa, jejak-jejak sesar terupdate serta morfologi di area zona tersebut.

**Baca juga: Retribusi Turun Drastis gegara Marak Tenaga Asing Ilegal di Tangsel 

Area tersebut hendaknya mendapatkan perhatian khusus dalam peruntukannya dan standard bangunan yang akan didirikan. Kasus longsor yang beberapa kali terjadi akibat gempa memiliki karakteristik tersendiri belum terpetakan dengan baik karena lebih jarang terjadi kecuali pada daerah dengan tingkat sesimisitas yang tinggi.

“Berbeda dengan longsor akibat aktivitas hidromet yang sumber utamanya adalah dari curah hujan. Longsor akibat gempa nampaknya kedepan juga merupakan ancaman yang tidak bisa diremehkan dalam menyusun tata ruang,” jelas Nur Hidayat.(yud)

Print Friendly, PDF & Email