oleh

Pandemi Covid-19, Jumlah Keluarga Miskin di Kabupaten Tangerang Meningkat

Kabar6-Selama berlangsungnya pandemi Covid19, angka kemiskinan di Kabupaten Tangerang mengalami peningkatan cukup signifikan.

Berdasarkan data dari Dinas Sosial Kabupaten Tangerang angka kemiskinan di daerah yang dipimpin Bupati Ahmed Zaki Iskandar tersebut, saat ini tercatat mencapai 158 ribuan Keluarga Penerima Manfaat (KPM) atau keluarga miskin.

Ratusan ribu keluarga miskin ini tersebar di 29 kecamatan yang di daerah berjuluk kota seribu industri tersebut.

“Ya naik lah, kalau lihat dari penerima bantuan sosial, jumlah Progran Keluarga Harapan (PKH) perluasan tambahan sebanyak 7 ribuan KK dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) ada perluasan 45 ribuan. Jadi, total keseluruhan warga miskin sebanyak 158 ribuan KK, tapi yang sudah terbayarkan sebanyak 152 ribuan KK,” ungkap Kepala Dinas Sosial Kabupaten Tangerang Ujat Sudrajat, Senin (30/6/2020).

Menurut Ujat, angka kemiskinan terbesar ada di empat kecamatan, diantaranya Pakuhaji, Kronjo, Rajeg dan Teluknaga. Di kecamatan Pakuhaji sendiri tercatat lebih dari 10 ribuan KK miskin.

“Kecamatan Pakuhaji menempati urutan pertama terbanyak keluarga miskin, ada sekitar 10 ribuan KK. Di desa Kohod contohnya, padahal disana sudah dibangun 600 lebih rehab rumah tapi masih banyak saja rumah tak layak huni,” katanya.

Ujat menambahkan, secara kajian ada beberapa faktor yang memengaruhi kenaikan angka kemiskinan di wilayah Kabupaten Tangerang.

Pertama, faktor kemiskinan absolut dimana didalam satu keluarga itu memiliki empat hingga lima anak, sedangkan kepala keluarga memiliki kemampuan untuk membiayai hidup anggota keluarganya sangat terbatas disebabkan karena penghasilannya yang sangat minim atau miskin keturunan.

Kedua, faktor budaya. Kemiskinan karena faktor budaya ini diketahui terjadi karena mental dari keluarga itu sendiri.

Semisal, ada kepala keluarga yang karena gensinya ingin tersohor dalam lingkungannya, sehingga dia memaksakan diri menggelar hajatan secara besar- besaran sampai berani menghabiskan uang sekitar Rp80 jutaan.

**Baca juga: Pungli di Pulau Cangkir, Camat Kronjo Jadi Sasaran Demo Warga.

Padahal, dana yang digunakan untuk hajatan itu diperoleh dari hasil utang atau menjual harta benda yang dimilikinya.

“Berdasarkan hasil kajian, kedua faktor itu menjadi pemicu naiknya angka kemiskinan. Disamping itu juga karena terdampak pandemi Covid19,” tandas Ujat.(Tim K6)

Berita Terbaru