oleh

Mengapa Kita Sering Merasa Waktu Berjalan Lebih Cepat?

Kabar6-Pernahkan Anda merasa waktu seperti berjalan sangat cepat? Semuanya serba terburu-buru seolah waktu berjam-jam terlewat hanya dalam sekejap. Mengapa kondisi ini bisa terjadi?

Situasi tadi bisa terjadi kapan saja, tidak selalu di pagi hari. Persepsi waktu selalu berubah, suatu ketika waktu terasa berjalan lebih cepat, tetapi di lain waktu terasa sangat lambat.

Para ilmuwan, melansir detikhealth, menyebut bahwa persepsi waktu dipengaruhi oleh area di otak yang disebut supramarginal gyrus (SMG). Kondisi sel-sel saraf di area inilah yang menentukan persepsi seseorang, apakah waktu berjalan lebih cepat atau lebih lambat. Dalam sebuah penelitian, ilmuwan di Center for Information and Neural Networks at the National Institute of Information and Communications Technology mengungkapnya dengan memberikan ‘ilusi waktu’ pada 18 relawan sehat.

Aktivitas otak di area tersebut diamati dengan fMRI (Functional Magnetic Resonance Imaging). Para relawan menjalani periode adaptasi, yakni melihat lingkaran abu-abu dengan latar gelap selama 250 milidetik dan 750 milidetik. Masing-masing sebanyak 30 kali berturut-turut.

Selanjutnya, partisipan diperlihatkan lingkaran lain selama waktu tertentu sebagai stimulus tes sambil mendengarkan suara yang mereka sebut ‘white noise’. Mereka diminta menilai, apakah simulasi yang diberikan lebih lama atau lebih singkat dari white noise.

Hasilnya, jika durasi stimulasi sama dengan durasi adaptasi maka aktivitas SMG menurun. Ini diartikan bahwa saraf-saraf di area tersebut ‘kelelahan’.

Perubahan aktivitas pada sistem saraf tersebut dalam kehidupan nyata berpengaruh pada persepsi tentang waktu. Misalnya dalam mengenali tempo saat mendengarkan konser piano. ** Baca juga: Seputar Mitos dan Fakta Makanan yang Dapat Tularkan Virus Corona

“Pendengar bisa merasa tempo musik Anda secara subjektif lebih lambat dari sebenarnya setelah terpapar musik dengan tempo yang lebih cepat, sekalipun ketika memainkannya dengan tempo yang tepat,” jelas Masamichi Hayashi, pemimpin penelitian.(ilj/bbs)

Berita Terbaru