oleh

Kurangi Kebutuhan Pasokan Makanan dari Bumi, Ilmuwan Budidayakan Tanaman di Bulan

Kabar6-Peneliti di University of Florida telah menemukan cara membudidayakan tanaman di tanah Bulan. Temuan tersebut telah diterbitkan dalam jurnal Communications Biology, dan dapat menjadi pedoman dalam memulai ‘mimpi eksplorasi’ Bulan di masa depan.

Salah satu penulis riset bernama Rob Ferl, melansir fox13news, mengatakan bahwa riset tersebut dapat membantu para astronaut melakukan misi di Bulan dengan membudidayakan makanan mereka sendiri, termasuk mengurangi kebutuhan akan pasokan dari Bumi.

“Ketika manusia bergerak sebagai sebuah peradaban, tidak hanya untuk menjelajah selama beberapa hari, tetapi ketika pergi untuk tinggal di suatu tempat, kita selalu membawa pertanian bersama itu,” terang Ferl dikutip.

Selain terkait ketahanan pangan dalam level tertentu, penelitian ini memiliki manfaat lain, misalnya dapat membantu astronaut memurnikan udara, menghilangkan karbon dioksida dari atmosfer, dan memproduksi air bersih.

Para peneliti menanam benih selada batu (Arabidopsis) di tanah Bulan yang dibawa pulang ke Bumi oleh astronaut sekira 50 tahun yang lalu. Tanah itu dikumpulkan dalam tiga misi Apollo yang berbeda, yakni Apollo 11 dan 12 pada 1969 dan Apollo 17 pada 1972.

Mereka membagi tanah bulan itu pada wadah satu gram. Kemudian para ilmuan menambahkan air, cahaya dan nutrisi. Mereka juga menanam benih kelompok kedua pada abu vulkanik, yang komposisinya mirip dengan tanah Bulan, sebagai kelompok kontrol.

Setelah kurang dari 48 jam, para ilmuwan melihat pertumbuhan pada kedua kelompok, tetapi mencatat beberapa hari kemudian bahwa tanaman di tanah Bulan tampaknya berada di bawah tekanan. ** Baca juga: Diduga Berselingkuh, Wanita India Dipukuli Sekaligus Dipaksa Gendong Suami Keliling Desa

Tanaman pada regolith dari Bulan tampak kerdil dibandingkan dengan yang tumbuh pada abu vulkanik Bumi. Namun Ferl mengatakan, fakta bahwa tanaman itu bisa tumbuh membuat penemuan itu positif.

“Intinya adalah, sampai benar-benar riset selesai, tidak ada yang tahu apakah tanaman, terutama akar tanaman, akan dapat berinteraksi dengan tanah yang sangat tajam dan sangat antagonis yang merupakan sifat regolith bulan,” jelas Ferl.

Penulis lainnya yaitu Anna-Lisa Paul, mengatakan bahwa menanam tumbuhan pada regolith cenderung mudah, namun memperoleh bahan yang diperlukan untuk penelitian itu sulit.

Para peneliti hanya memiliki sekira 12 gram tanah bulan atau sekitar satu sendok makan. Sementara penelitian ini harus dilakukan beberapa kali, selama lebih dari satu dekade. “Sampel-sampel ini adalah harta alami yang sangat berharga,” tambah Ferl.

Dijelaskan Ferl, ketika bereksperimen dengan tanah Bulan ini, partikel tanah Bulan tersebut berubah. Begitu tanah Bulan bersentuhan dengan udara dan air, tanah ini tidak lagi murni dan kehilangan sebagian dari sifat alamiahnya, yang sangat dilindungi sebelumnya.

Adapun, penemuan yang dipublikasikan ini sangat penting untuk misi ke Bulan. Hanya saja ilmuwan masih belum tahu bagaiamana tanaman dari Bumi dapat berinteraksi dengan lanskap Bulan, sebab Bulan dinilai sangat kering dibandingkan dengan Bumi.(ilj/bbs)