oleh

Krisis Minyak Goreng, HMI : Kami Siap Bekerjasama dengan Pemkab Tangerang

Kabar6-Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Tangerang Mohamad Eddy Sopyan memberikan dukungan penuh kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang, khususnya Dinas Perindustrian dan Perdagangan agar mampu menyelesaikan permasalahan langka dan mahalnya minyak goreng di daerah itu.

“Kami meminta dan mendukung langkah cepat tepat Pemerintah Kabupaten Tangerang, khususnya Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tangerang untuk menyelenggarakan Pasar Minyak Goreng Murah di setiap RT/RW ataupun desa, guna menyelesaikan permasalahan kelangkaan dan mahalnya minyak goreng” ujarnya.

Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Tangerang bersedia untuk menjadi fasilitator terselenggaranya operasi pasar murah yang nantinya menjadi jawaban kelangkaan minyak goreng.

Indonesia, kata dia, merupakan negara agraris yang artinya sektor pertanian memegang peranan penting dari keseluruhan perekonomian nasional. Hal ini dapat ditunjukkan dari banyaknya penduduk atau tenaga kerja yang hidup bekerja dalam sektor pertanian.

**Baca Juga: Rizal Ramli Sebut Aneh Minyak Goreng Langka dan Mahal di Indonesia

Sebagai negara agraris, Indonesia dianugerahi kekayaan alam yang melimpah ditambah posisi Indonesia yang dinilai sangat strategis. Dilihat dari sisi geografis, Indonesia terletak pada daerah tropis yang memiliki curah hujan yang tinggi. Kondisi ini yang membuat Indonesia memiliki lahan yang subur dan banyak jenis tumbuhan yang dapat tumbuh dengan cepat.

“Dengan dilimpahi kekayaan alam yang melimpah, Indonesia menjadi produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Yang dimana Produksi sawit Indonesia per tahun 2019 mencapai 43 juta ton, dengan pertumbuhan rata-rata per tahun sebesar 3,61 persen, dengan jumlah ini maka tak heran jika dijuluki sebagai produsen terbesar di dunia,” katanya.

Namun akhir-akhir ini sambungnya, masyarakat kesulitan dalam mencari minyak goreng yang langka khususnya di Tangerang Raya, bahkan minyak goreng tersebut walaupun tersedia, masyarakat harus mengantri demi mendapatkannya. Akibatnya lonjakan harga pada minyak goreng semakin tidak terkendali.

Lembaga Riset Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) memperkirakan kerugian ekonomi yang ditanggung oleh masyarakat akibat krisis lonjakan harga minyak goreng mencapai Rp 3,38 triliun. Kerugian ini merupakan akumulai kerugian dari kenaikan harga dan krisis minyak goreng pada April 2021 hingga Januari 2022.

Direktur IDEAS Yusuf Wibisono pun menjelaskan, estimasi kerugian masyarakat ini diperoleh dengan menjadikan harga rata-rata minyak goreng periode Januari-Maret 2021 sebagai baseline saat harga minyak goreng masih normal.

Adapun kerugian terakumulasi dari dua periode, yaitu periode April – September 2021 sebesar Rp 0,98 triliun dan Oktober 2021 – 19 Januari 2022 Rp 2,4 triliun.

“Melihat dari data tersebut maka dapat diperkirakan hal ini secara estimasi dari kerugian ini masih konservatif karena tidak memperhitungkan periode dari 19 Januari 2022. Meskipun setelah 19 Januari 2022, harga minyak goreng secara resmi sudah turun akan tetapi pasoka minyak goreng murah sangat terbatas dan tidak tersedia di banyak tempat,” tandasnya.

Dalam hal ini, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah harus mencari solusi ditengah kesulitan masyarakat untuk mendapatkan minyak goreng demi memenuhi kebutuhan pokok di era Pandemi Covid-19, terutama mendekati Bulan Ramadhan.

Terlebih untuk rakyat menengah kebawah yang mungkin saat ini dibuat kesulitan dengan kenaikan harga minyak goreng yang melonjak di era Pandemi Covid-19, karena pada dasarnya Masyarakat menengah bawah menginginkan minyak goreng yang murah dengan Harga Eceran Tertinggi yang telah di tentukan oleh Kementrian Perdagangan dengan harga mulai dari Rp 11.500 hingga Rp. 14.000 Perliter, namun hal ini tidak dapat menutup kemungkinan bagi kalangan masyarakat menengah atas yang ingin membelinya.

Sesuai dengan perkataan Bupati Tangerang Ahmed Zaki Inskandar, kelangkaan minyak goreng itu secara umumnya tidak terjadi, hanya saja memang untuk minyak goreng dengan harga murah yakni sebesar Rp. 14.000 per liter itu pasokannya terbatas.

“Kalau bicara stok sebenarnya banyak, tapi yang harganya di atas Rp 14.000, tapi kalau harga di bawah itu terbatas,” tuturnya menirukan pernyataan Bupati Zaki.(Tim K6)