oleh

Kisah Mahasiswa Idaqu, Pernah Jualan Bakso Bakar

Kabar6-Taufik sudah terbiasa disiplin memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Seperti pada kesempatan perbincangan di Institut Daarul Qur’an, awal pekan lalu. Pemuda itu tampak terburu-buru setelah selesai wawancara, sebab dia harus segera kembali ke Rumah Tahfizh untuk mengajar.

Pemilik nama lengkap Taufik Abdullah itu adalah mahasiswa Institut Daarul Qur’an penerima program beasiswa. Taufik, panggilan akrabnya, juga menjadi pengajar di salah satu Rumah Tahfizh di Karawaci, di bawah Koordonator Daerah RTC wilayah Banten.

Mahasiswa jurusan Al-Qur’an dan Hadits tersebut terlihat rapih dengan kemeja hitam dan celana abu-abu. Tidak lupa topi newsbooy berwarna abu-abu yang membuatnya tampak semakin elegan.

Namun, siapa sangka bahwa anak muda keren tersebut adalah seorang hafidz Qur’an 30 juz. Penampilannya yang menarik meski bergaya klasik membuat Taufik tidak terlihat seperti ustadz-ustadz pada umumnya. Memang selain mengajar, ia juga menjadi mahasiswa di Institut Daarul Qur’an.

Pada kesempatan tersebut Taufik menceritakan latar belakangnya. Ternyata, ia merupakan perantau asal Medan yang berkelana ke ibu kota hanya untuk menuntut ilmu.

Semua itu berawal dari keputusannya untuk masuk ke Rumah Tahfizh di Medan. Rumah Tahfizh tersebut berada di bawah naungan PPPA Daarul Qur’an Medan. Taufik masuk Rumah Tahfizh karena ingin menjadi penghafal Al-Qur’an.

“Waktu itu, cari-cari program tahfizh di internet terus dapet informasi di Rumah Tahfizh Daarul Qur’an. Habis itu langsung daftar dan Alhamdulillah lolos, masuk di situ,” kata Taufik.

Ia begitu bersungguh-sungguh ketika memutuskan untuk masuk ke Rumah Tahfizh. Keputusan itu juga sudah mendapat restu dari orang tuanya. Bahkan, ada satu pesan dari ayahnya yang sampai sekarang masih ia ingat.

“Belajarlah sampai kamu nggak punya teman, niscaya kamu nanti akan didatangi banyak teman,” ungkap Taufik mengingat pesan sang ayah.

Taufik benar-benar menerapkan pesan tersebut. Ia belajar dengan giat sehingga tak memiliki banyak waktu dan teman untuk bermain. Namun, ia membuktikan sendiri bahwa ketika sudah hafal 30 juz maka banyak teman-teman yang datang kepadanya.

Ya, Taufik berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an di Rumah Tahfizh. Ia membutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk menghafal 30 juz. Dirinya tak menyangka banyak keajaiban yang terjadi dalam hidupnya setelah hafal Al-Qur’an.

Salah satu yang paling berkesan adalah kesempatan untuk kuliah gratis di Institut Daarul Qur’an. Namun, merantau jauh dari keluarga bukanlah hal yang mudah. Ia harus berjuang dari kerasnya kehidupan di kota seorang diri.

Sebut saja untuk kebutuhan sehari-hari, Taufik sampai rela menjadi penjual bakso bakar di awal-awal perkuliahan. Hal itu ia lakukan agar lebih mandiri dan tidak bergantung kepada orang tua. Mengingat, sebelumnya ia mendapatkan kiriman uang dari orang tuanya.

“Saya nggak mau jadi beban buat orang tua, jadi saya harus cari uang sendiri di sini. Dulu ikut kuliah umum KH. Yusuf Mansur dan beliau bilang ke jamaah supaya telpon orang tua sambil bilang biar nggak lagi kirimin uang, nah itu saya lakukan,” jelasnya.

**Baca Juga: UPTD PJJ Pandeglang Lakukan Perbaikan Rutin Jalan Ahmad Yani

Sejak saat itu, ia tidak pernah meminta uang kepada orang tuanya.

“Jadi, seberapa pun uang yang saya pegang, saya harus bisa memakainya buat kebutuhan pribadi,” imbuhnya.

Kebesaran Allah kembali dibuktikannya. Tak lama setelah itu, ia mendapatkan tawaran mengajar di Rumah Tahfizh. Kesempatan itu tidak ia sia-siakannya. Ia menjalankan tugas sebagai pengajar dengan baik sebagai bentuk syukur kepada Allah. Hingga kini dirinya masih bertahan menjadi pengajar Rumah Tahfizh tersebut.

Taufik selalu dapat membagi waktu antara mengajar dan kuliah. Cita-citanya sendiri adalah menjadi pengusaha dan mendirikan pesantren penghafal Qur’an. Ia ingin ilmunya bermanfaat untuk anak-anak yang sama sepertinya beberapa tahun silam.

Mari dukung mereka jadi sarjana pengahfal Qur’an dengan sedekah terbaikmu. Klik di sini untuk berikan donasi. (Red)

Print Friendly, PDF & Email