oleh

Keluarga Pasien Keluhkan Fasilitas dan Pelayanan, Dirut RSUD Berkah Pandeglang Beri Penjelasan

Kabar6 – Pelayanan dan fasilitas di RSUD Berkah Pandeglang dikeluhkan keluarga pasien. Keluarga merasa geram lantaran tidak ada sinkronisasi birokrasi antara rumah sakit dan Puskesmas dan juga fasilitas ruang isolasi di RSUD Berkah.

Hal itu dialami pasien bernama Safrudin asal Kecamatan Mandalawangi. Awalnya pasien tersebut dibawa ke Puskesmas Mandalawangi, kemudian dirujuk ke RSUD Berkah Pandeglang tanpa diberikan surat rujukan oleh Puskesmas.

Namun sesampainya di UGD RSUD Berkah pasien diminta untuk dibawa pulang lagi ke Puskesmas Mandalawangi sebagai Fasilitas Kesehatan (Faskes) awal, kalaupun hendak dibawa kembali ke RSUD harus didampingi pihak Puskesmas dengan menggunakan mobil ambulance Puskesmas.

“Ketika datang ke PKM Mandalawangi, katanya gak usah bawa rujukan. Ketika datang ke rumah sakit kita diminta rujukan, terus diminta dibawa pulang ke Faskes awal. Katanya di sana harus dirawat dulu, atau tidak di rujukan ke sini dan diantarkan oleh pihak Puskesmas dengan menggunakan ambulance,” keluh Dede Muhajir anak pasien, Kamis (11/8/2022).

Setelah berdebat panjang dengan perawat di UGD, akhirnya orangtuanya di mulai ditangani. Tak lama, ia didatangi seorang dokter yang menawarkan ruangan VIP karena kelas 1 sesuai kelas BPJS yang dimiliki orangtuanya penuh.

“Bukannya di bawa ke ruang VIP, tiba-tiba dibawa ke ruang isolasi. Disini saya mulai geram ko dibawa ke ruang isolasi, saya fikir ruang isolasi itu sesuai dengan standar nasional, seperti penyakit menular lainnya, yang memang dirawat di ruangan tersendiri dengan pelayanan khusus,”keluh Dede.

“Tapi ternyata bapak saya BPJS ya pensiun PNS, malah kelasnya seperti kelas 3 yang ditempatkan di ruang Pulmo ruang Isolasi khusus paru-paru,”tambahnya.

Setelah orang tuanya dibawa ke ruang Pulmo karena didiagnosis menderita penyakit paru-paru, Dede terkejut karena dalam ruangan tersebut terdapat beberapa pasien yang penyakitnya lebih parah dari orangtuanya. Di ruang isolasi, kata dia tidak ada penerapan protokol kesehatan (Protes) yang ketat, normal seperti biasa.

“Itu dicampur seperti TBC, HI, komfikasi, disampinnya katanya ada ruangan pasien yang terpapar Covid-19. Bahkan ada yang mau melahirkan, katanya reaktif Covid-19. Ternyata protesnya gak ada. Normal saja yang nungguin, secara bergantian,”ujarnya.

“Masalah ini juga harus jadi perhatian pihak rumah sakit kaitan dengan penyakit menular. Jangan sampai orang yang nganter sakit pulang ke rumah bawa virus,”sambungnya.

Dede juga menyayangkan, informasi yang disampaikan oleh beberapa perawat tidak satu suara. Awalnya perawat menjelaskan, alasan di ruangan Pulmo hanya untuk memudahkan dokter melakukan pemeriksaan, ada juga perawat yang mengatakan, orangtuanya harusnya tidak ditempatkan di ruang tersebut.

Lantaran orangtuanya tak nyaman dengan kondisi ruangan tersebut dan setelah berkonsultasi dengan dokter, akhirnya orangtuanya dibolehkan pulang.

“Awalnya orangtua saya dirawat disini supaya proses penyembuhan lancar. Setelah datang kesini ya begini untuk tidak saja orangtua saya gak bisa karena disatukan dengan pasien lain yang punya penyakit kronis,”tandasnya.

Terkait keluhan pasien tersebut, Direktur RSUD Berkah Pandeglang Eniyati memberikan penjelasan. Ia mengatakan, pasien tersebut menderita penyakit paru yang beresiko menular. Sehingga harus dirawat di ruangan isolasi.

“Menurut informasi dari kabid perawatan, bahwa pasien tersebut pasien penyakit paru beresiko menular,”ujarnya.

**Baca juga: Muhamad Kabir Dilantik Jadi Staf Ahli Bupati Bidang Kesra dan SDM Pemkab Pandeglang

Hal itu atas saran dari dokter dan belum di sarankan untuk dirawat di ruangan. Menurutnya ruangan tersebut khusus untuk pasien yang menderita penyakit paru dan tidak dicampur dengan pasien yang menderita penyakit lain.

“Maka atas advice dari dokter sepesialis paru harus dirawat tersendiri di ruangan isolasi khusus paru/ruang pulmo, belum bisa ditempatkan di ruangan lain,”tutupnya.(aep)