oleh

Idul Adha dan Memetik Pelajaran Hebat dari Kisah Nabi Ibrahim

Kabar6-Beberapa kejadian besar dalam sejarah Islam terjadi di bulan Dzulhijjah.
Dalam sebuah hadis Rasullullah SAW menerangkan pada tanggal 1 Dzulhijjah taubat Nabi Adam Alaihisalam diterima Allah SWT setelah sekian ratus tahun lamanya.

Masih ada beberapa kejadian besar lainnya, dan salah satunya yang juga tidak mungkin dilupakan umat Islam adalah sejarah ketaatan dan ketakwaan Nabi Ibrahim Alaihisalam dan keluarganya yang diperingati pada hari ini.

“Nabi Ibrahim adalah nabi yang sangat dermawan, ia biasa menyembelih seribu
ekor domba, tiga ratus lembu dan seratus ekor unta untuk Sabilillah. Banyak orang bahkan para malaikat mengangumi Nabi Adam,” kata Kepala Kemenag Lebak, Badrusalam, dalam khutbah Idul Adha 1443 Hijriah, di Alun-alun Rangkasbitung, Minggu (11/7/2022).

Mendengar kekaguman tersebut, Nabi Ibrahim berkata “Jika saja aku aku punya seorang anak laki-laki dan Allah meminta agar aku mengorbankannya, maka niscaya akan aku korbankan dia”.

Pada malam tarwiyah tanggal 8 Dzulhijjah, Allah menguji ketakwaan Nabi Ibrahim. Dalam mimpinya, Nabi Ibrahim diperintahkan memenuhi nazarnya yakni menyembelih putra kesayangannya saat itu.

“Saat itu Nabi Ibrahim belum yakin dan masih berpikir apakah perintah itu
datang dari Allah atau setan yang ingin merusak keharmonisan rumah tangga yang akhirnya kita kenal dengan Yaumut Tarwiyah,” ujar Badrusalam.

Keesokan harinya tanggal 9 Dzulhijjah, Nabi Ibrahim bermimpi lagi dengan mimpi yang sama. Maka yakinlah Nabi Ibrahim, mimpi itu benar-benar datang dari Allah SWT. Pada malam ketiga, Nabi Ibrahim bermimpi kembali dengan mimpi yang sama.

“Nabi Ibrahim lalu bertekad untuk memenuhi nazarnya, yaitu menyembelih putra kesayangannya. Kisah kurban penyembelihan Nabi Ismail oleh ayahandanya Nabi Ibrahim ini diabadikan oleh Allah SWT dalam Alquran surat As Safat ayat 102,” ucapnya.

“Nabi Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelih mu, maka pikirkanlah apa pendapat mu. Ismail menjawab: Hai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kami akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar,” tutur Badrusalam.

Tentu saja, iblis tidak tinggal diam melihat manusia ingin melaksanakan perintah Allah SWT. Satu per satu keluarga Nabi Ibrahim digodanya. Mulai dari Nabi Ibrahim dan istrinya Siti Hajar hingga Nabi Ismail.

**Baca Juga: Wali Kota Tangerang: Ibadah Kurban Momentum Ingatkan Diri tentang Perjuangan dan Pengorbanan

“Benteng ketakwaan dan kesolehan yang kokoh dari seluruh anggota keluarga ini tidak mampu dikoyak iblis laknatullah. Sungguh pelajaran yang sempurna dari Allah bahwa setiap keluarga muslim pasti akan mendapat godaan yang sama,” kata dia.

Ia berharap, Hari Raya Idul Adha bisa menjadi momentum untuk memetik pelajaran yang indah dan hebat dari Nabi Ibrahim dan keluarganya.

“Kita yang jadi ayah semoga bisa menjadi ayah yang demokratis adil dan bijaksana sebagaimana Nabi Ibrahim, mengajak putranya bermusyawarah untuk melaksanakan perintah Allah. Wanita yang yang ditakdir Allah menjadi ibu semoga mampu meneladani Siti Hajar yang mendukung, membantu dan mendoakan suami dalam mentaati perintah Allah dan anak-anak bisa meniru kesolehan Ismail yang dengan keimanan dan ketakwaannya menjadikan ia sabar dan ikhlas untuk beribadah kepada orangtua sekalipun harus dikorbankan oleh ayahnya demi mengikuti perintah Allah,” papar Badrusalam mengakhiri khutbahnya.(Nda)