oleh

Harga Bahan Pokok di Korut Meroket Akibat Krisis Pangan, Sebungkus Kopi Dijual Rp1,4 juta

Kabar6-Harga sejumlah bahan pokok di Korea Utara (Korut) mulai meroket, menyusul krisis makanan yang melanda negara tersebut. Warga di Ibu Kota Korut, Pyongyang, mengatakan bahwa harga sebungkus kopi di sana mencapai lebih dari Rp1,4 juta.

Pemimpin Korut, Kim Jong-un, sendiri telah membahas krisis yang berkembang di sektor pertanian negaranya. Media Korut, melansir Sindonews, melaporkan bahwa Kim Jong-un mengakui situasi pangan ‘menjadi tegang’ dengan meroketnya harga bahan makanan pokok sebagai akibat dari terjangan badai hebat terhadap industri produk pangan negara.

Ada kekhawatiran yang berkembang bahwa bencana kelaparan pada 1990-an akan terulang di Korea Utara, yang menurut beberapa perkiraan menewaskan lebih dari tiga juta warga. Penutupan perbatasan selama pandemi COVID-19 menghambat perdagangan, menciptakan kelangkaan barang impor termasuk gula, tepung, dan minyak.

Warga di Pyongyang mengatakan, harga kentang meroket tiga kali lipat. Mereka yang mencari minuman berkafein terpaksa membayar hingga US$100 untuk sebungkus kopi dan US$70 untuk beberapa teh celup.

Harga kebutuhan pokok lain seperti beras dan bahan bakar dilaporkan tetap tinggi. Pengakuan Kim Jong-un bahwa ekonomi yang dikelola negara tidak dapat memberi makan warganya menunjukkan bahwa krisis pangan di negara itu berada di ujung tanduk.

Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) baru-baru ini melaporkan, Korut hanya memiliki persediaan pangan untuk dua bulan ke depan, menderita kekurangan pasokan sebesar 860 ribu ton secara nasional. ** Baca juga: Magnet Terkuat di Dunia Buatan AS Mampu Angkat Kapal Induk Seberat 100 Ribu Ton

Namun Kim Jong-un menolak untuk merinci sejauh mana krisis pangan di negaranya, tetapi baru-baru ini dia memperingatkan warganya untuk bersiap menghadapi ‘Maret yang Sulit’ lainnya, nama yang diberikan untuk krisis pangan pada 1990-an.

“Saya memutuskan untuk meminta organisasi WPK (Partai Buruh Korea) di semua tingkatan, termasuk Komite Pusat dan sekretaris sel dari seluruh partai, untuk melakukan ‘pawai sulit’ yang lebih sulit untuk membebaskan kesulitan rakyat kami, bahkan sedikit pun,” ujar Kim Jong-un.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Zhao Lijian mengatakan, sanksi perdagangan internasional telah lama menjangkiti negara komunis Korea tersebut, tetapi dampak buruk dari pandemi COVID-19 ditambah dengan pembatasan impor barang telah membawa situasi suram ke puncak. Tiongkok diketahui merupakan sekutu dekat Korut.(ilj/bbs)

Berita Terbaru