oleh

Epa Anggota DPRD Kota Tangerang Tepis Terlibat Dugaan Pengeroyokan

Kabar6-Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tangerang, Epa Emilia menepis upaya hukum yang dilakukan oleh Jopie Amir ke Polres Metro Tangerang Kota atas dugaan pengeroyokan. Ia mengatakan, dugaan aksi tersebut merupakan upaya pembelaan diri setelah mendapat aksi kekerasan dari Jopie.

Epa pun melaporkan balik Jopie Amir ke Polres Metro Tangerang Kota. Laporan itu dilayangkan Anggota dewan dari Fraksi PDIP ini pada 19 September 2021 lalu dengan tindak pidana penganiayaan pasal 351 KUHP.

Epa menjelaskan masalah ini bermula ketika dirinya diperkenalkan dengan Jopie Amir yang mengaku sebagai pimpinan perusahaan properti PT Cahaya Langkisau. Selanjutnya, mereka menjalin kerjasama pemasangan interior di rumah Epa dengan nilai Rp250 juta dengan estimasi 3 bulan dari pembiayaan awal pada Februari 2021 lalu.

“Kesepakatan pembayaran pertama uang muka 30 persen, kedua 30 persen, ketiga 30 persen dan pelunasan 10 persen. Pembayaran yang sudah dilakukan Epa yakni 90 persen atau Rp225 juta. Jadi sisanya 25 juta dan 10 persen sebagai garansi jika pemasangam interior sudah selesai,” ujarnya saat jumpa pers, Kamis, (23/9/2021).

Namun, nyatanya tak sesuai dengan kesepakatan. Interior yang diharapkan pun tak juga dipasang. Padahal kesepakatannya itu akan dipasang 3 bulan setelah pembayaran tahap 3. Hingga September, Epa pun menanyakan hal itu kepada pihak interior yang bekerjasama dengan Jopie yakni Alexander.

Ternyata uang yang masuk ke Alexander baru sebesar Rp125 juta. Sementara, uang yang telah disetorkan Epa kepada Jopie sebesar Rp225 juta. Menurutnya, kekurangan Rp90 juta untuk memasang interior tersebut.

Tak puas dengan itu, Epa pun menyambangi kediaman Jopie di kawasan Kelurahan Kedaung Wetan, Kecamatan Neglasariuntuk mempertanyakan gal tersebut pada Minggu, (19/9/2021). Kata Epa, Jopie mengaku telah menyetorkan uang sebesar Rp175 juta kepada Alexander. Epa tak percaya dan meminta tanda bukti transfer namun Jopie tak memberikannya.

Disana terjadi ketegangan. Epa memaksa Jopie memperlihatkan bukti transfer di Handphone-nya. Keduanya saling merebut Handphone.

Epa mengaku, tangannya dipelintir Jopie, hingga kesakitan. Saat terjadi keributan itulah rekan pria Epa, Pabuadi yang juga terlapor masuk dan mencoba menyelamatkan Epa.

Namun Pabuadi ditahan oleh rekan Jopie yang berjumlah 3 orang. Hingga, Pabuadi meronta dan mengeluarkan pistolnya untuk memukul Jopie. Baku hantam pun tak terhindari, Pabuadi menghantam kepada Jopie dengan pistol tersebut hingga mengalami pendarahan. Menurut Epa yang digunakan Pabuadi untuk memukul Jopie bukannya senjata api melainkan airsoftgun.

“Lalu terjadilah baku hantam saat itu, saat itu lah Pauadi mengeluarkan pistol mainan yang di pukul secara reflek yang mengenai wajah Jopie Amir yang sedang melintir tangan saya,” ungkap Epa.

Kemudian, Jopie Amir pun melepaskan pelintiran tangannya ke Epa. Saat itu, Jopie kata Epa mengatakan masalah ini hanyalah salah faham saja dan meminta perdamaian dengan surat yang ditandatangani kedua belah pihak.

“Lalu saya membawa beserta Pabuadi yang membiayai dibawalah ke RS Sitanala,” katanya.

Namun, ternyata Jopie Amir masih tak terima dengan kejadian tersebut dan melaporkan Pabuadi dan Epa ke Polres Metro Tangerang Kota dengan dugaan pengeroyokan. Menurut Epa, identitas yang disertakan Jopie Amir tak sesuai dengan sebenarnya.

“Mengetahui Jopie Amir membuat laporan rekayasa saya pun buat laporan balik dengan kejadian yang benar berdasarkan visum RSU Kabupaten Tangerang,” ungkap Epa.

Pabuadi mengakui kepemilikan senjata airsoft tersebut. Ia mengaku mendapatkan senjata itu dari Polda Metro Jaya berserta perizinannya.

“Punya saya. Iya kepemilikan. Di Polda (asal senjata dan izin) senjata sudah saya serahkan ke Polres saat laporan, karena permintaan dari polres sementara disita,” katanya.

**Baca juga: 2 Atlet Panjat Tebing Kota Tangerang Dilepas Pengurus untuk PON Papua

Pabuadi mengatakan senjata tersebut telah ia gunakan selama setahun ini untuk menjaga diri. Sehingga, hanya dikeluarkan ketika terjadi ancaman saja.

“Saya kan anter Bu Epa kemana mana juga, karena kan dia kunker (Kunjungan kerja) kan keluar daerah, saya bawa itu kalo ke luar daerah aja dan posisinya ada di dalam tas,” tandasnya. (Oke)

Berita Terbaru