oleh

Dikecam PBB, 7 Negara Teratas dalam Jumlah ‘Perbudakan Modern’ di Dunia

Kabar6-Melalui Resolusi Majelis Umum Nomor 317, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengutuk segala tindak perdagangan manusia, termasuk perbudakan. Karena itulah, 2 Desember ditetapkan sebagai ‘Hari Penghapusan Perbudakan Sedunia’ dan 31 Juli ditetapkan sebagai ‘Hari Menentang Perdagangan Manusia Sedunia’.

Meskipun demikian, kasus perdagangan manusia masih marak terjadi dengan berbagai bentuk. Berdasarkan data Global Report on Trafficking in Person 2020 yang dikeluarkan United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC), pada 2018 terdapat 50 persen kasus perdagangan manusia berbentuk eksploitasi seksual, 38 persen dalam bentuk kerja paksa, enam persen kasus aktivitas kriminal, 1,5 persen kasus pengemis, dan satu persen kasus pernikahan paksa.

Nah, tahukah Anda, negara mana saja yang memiliki jumlah kasus perdagangan manusia paling banyak? The Walk Free Foundation menerbitkan laporan Global Slavery Index 2018 yang mengulas mengenai perbudakan modern, yang mencakup konsep perdagangan manusia, kerja paksa, perbudakan, pernikahan paksa, penjualan dan eksploitasi anak. Melansir Sindonews, tujuh negara teratas dalam jumlah korban perbudakan modern:

1. India
Menurut Global Slavery Index 2018, jumlah korban perbudakan modern di India saat itu mencapai 7.989.000 orang. Laporan dari Free a Girl Foundation menyatakan, ada sekira 16 juta perempuan dan anak-anak yang menjadi korban dari perdagangan seks. Menurut Layanan Hukum di India, ada sekira empat gadis di India yang dimasukkan ke kegiatan prostitusi tiap jamnya.

2. Tiongkok
Global Slavery Index 2018 menyebutkan, terdapat 3.864.000 korban perbudakan di Tiongkok. Negara itu juga dijadikan sebagai tempat transit bagi para pedagang untuk menjadikan warga asing sebagai sasaran perdagangan manusia ke negara lain.

3. Pakistan
Negara yang terletak di Asia Selatan ini, menurut Global Slavery Index 2018, memiliki prevalensi perbudakan modern sebesar 16,8 per 1.000 penduduk dan terdapat 3.186.000 orang tercatat sebagai korbannya. ** Baca juga: Krisis Ekonomi, Pemuda Zimbabwe yang Tak Mampu Beli Alkohol Pilih Minum Rebusan Popok Bayi

4. Korea Utara (Korut)
Berdasarkan data Global Slavery Index 2018, negara ini memiliki tingkat prevalensi perbudakan modern sebesar 104,6 per 1.000 penduduk dan terdapat 2.640.000 orang yang tercatat sebagai korbannya.

5. Nigeria
Global Slavery Index 2018 menyebut, Nigeria memiliki tingkat prevalensi perbudakan modern sebesar 7,7 per 1.000 penduduk dengan total korban yang tercatat sebanyak 1.386.000 orang. Dalam Laporan Perdagangan Manusia di Nigeria pada 2021, tertulis ada 9,5 juta anak laki-laki yang rentan dijadikan pengemis oleh gurunya.

6. Iran
Disebutkan Global Slavery Index 2018, prevalensi perbudakan modern di negara ini 16,2 per 1.000 orang, dengan korban yang tercatat sebanyak 1.289.000 orang. Terdapat beberapa komunitas yang dianggap lebih rentan atas kasus perdagangan manusia, di antaranya adalah etnis minoritas, pengungsi dan migran, serta perempuan dan anak-anak.

7. Indonesia
Data Global Slavery Index 2018 mencatat prevalensi perdagangan manusia di Indonesia mencapai 4,7 per 1.000 orang dengan jumlah korban sebesar 1.220.000 orang. Uniknya, para pelaku perdagangan manusia di Indonesia menggunakan platform online untuk mencari korban perdagangan manusia.

Pada 2017, NGO memperkirakan ada 70 ribu hingga 80 ribu korban perdagangan anak di Indonesia untuk disalurkan sebagai pekerja seks.(ilj/bbs)