oleh

Di Desa Andaman India Penduduk Dilarang Pakai Alas Kaki

Kabar6-Ada sebuah tradisi kuno di desa Andaman, terletak sekira 450 kilometer dari Chennai, ibu kota negara bagian Tamil Nadu, India Selatan. Penduduk di sana tidak mengenakan alas kaki atau sepatu.

Alasannya, bagi siapa saja yang menggunakan alas kaki seperti sandal atau sepatu, maka sesuatu yang buruk akan terjadi. Hal itulah, melansir MSN, yang membuat sekira 130 keluarga di Desa Andaman, baik anak-anak hingga orang tua, memiliki kebiasaan ‘bertelanjang kaki’ ke mana pun mereka pergi. Sama halnya, bagi mereka yang datang ke Desa Andaman juga harus mengikuti peraturan dengan tidak memakai alas kaki. Mereka harus melepas dan menenteng sandal atau sepatu ketika berkunjung ke sana.

Sepatu biasanya akan dilepas di dekat pohon mimba besar sebagai tanda pintu masuk desa. Bukan tanpa sebab, di bawah pohon mimba itulah ternyata kisah yang menjadi ciri khas Desa Andaman dimulai.

Mereka masih mengikuti tradisi dan ajaran leluhurnya. Para leluhur percaya, desanya dilindungi oleh Dewi Muthyalamma, salah satu dewi yang dipercayai oleh umat Hindu. Dengan tidak memakai alas kaki, mereka berarti menghormati dewinya.

“Tradisi ini adalah hal yang sakral dari leluhur yang kami hormati hingga saat ini,” kata Subramaniam Pramban, salah seorang penduduk desa Andaman.

Sementara menurut penduduk desa lainnya yang bernama Sevagan, tradisi ini semakin mempererat rasa kekeluargaan antarpenduduk desa. “Tradisi ini telah menyatukan kita, membuat semua orang di desa merasa seperti keluarga,” kata Sevagan.

Konon pada zaman dulu ada seseorang yang memakai alas kaki melintasi patung Dewi Muthyalamma. Lantas, tak lama orang tersebut jatuh sakit, seperti demam yang tak kunjung sembuh. Nah, sejak saat itulah, para penduduk desa mempercayai jika mereka mengenakan sepatu, maka nasib buruk akan terjadi.

Sementara itu, setiap lima hingga delapan tahun sekali, selama Maret atau April, desa Andaman menyelenggarakan festival pemasangan patung tanah liat Muthyalamma di bawah pohon Mimba. Selama tiga hari, sang dewi dipercaya akan memberkati seluruh desa, sebelum patung itu kemudian dihancurkan berkeping-keping agar kembali ke elemen tanah.

Selama festival, desa dipenuhi dengan doa, pesta, arak-arakan, tarian, dan drama. Namun karena biaya yang besar, acara itu tidak diadakan setiap tahun.

Festival terakhir diadakan pada 2011 lalu, dan belum pasti kapan akan diadakan lagi, karena semua tergantung dari sumbangan penduduk lokal. Di sisi lain, tak sedikit orang di luar desa yang menganggapnya sebagai takhayul. Terlepas dari hal tersebut, ketika seseorang mengunjungi desa dan mengenakan sepatu, para penduduk akan mencoba menjelaskan aturannya.

Tetapi jika mereka tidak mematuhinya, para penduduk desa Andaman juga tidak memaksakan mereka yang ingin mengenakan sepatu. Karena hal ini bukanlah aturan yang ketat, melainkan tradisi kuno yang penuh cinta dan rasa untuk menghormati Dewi Muthyalamma. ** Baca juga: Sebuah Bangunan Penjara di Swedia Dapat Penghargaan Ramah Lingkungan

“Ini murni pilihan pribadi yang dianut oleh semua yang tinggal di sini,” jelas Pechiamma, salah satu penduduk desa Andaman.(ilj/bbs)

Berita Terbaru