oleh

Cetakan Al-Qur’an Braile Serpong Tembus Pasar Dunia

Kabar6-Siapa sangka bila pasokan cetakan kitab suci Al-Qur’an berhuruf braile yang ada di sejumlah negara di dunia, dibuat di Kota Tangerang Selatan (Tangsel).

Bahkan, daerah termuda di Banten ini diklaim menjadi pelopor cetakan kitab suci bagi umat muslim penyandang tuna netra.

Pembuat cetakan Al-Qur’an huruf braile ini bertempat di Yayasan Raudlatul Makfufin, Kelurahan Buaran, Kecamatan Serpong. Di lokasi itu, para perajinnya sudah tergolong mandiri hingga mampu menafkahi keluarganya.

“Hasil cetakan Al qur’an huruf braile dari sini sudah masuk pasar Turki dan Singapura,” terang Joni, pendiri Yayasan Radlatul Makfufin, Minggu (17/5/2015).

Fakta di atas menyiratkan bila yayasan tersebut mampu menyaingi produk sejenis milik perusahaan besar ternama. Industri kakap pencetak Al-Qur’an itupun letaknya hanya berdekatan, yakni di kawasan Kecamatan Serpong Utara.

Joni menjelaskan, rekam jejak usahanya itu dirintis bermula dari himpitan menghidupi penghuni yayasan. Pengelola juga menampung serta menfasilitasi kebutuhan para penyandang tuna netra.

Tentu saja untuk menghidupi mereka, biaya operasional yang dibutuhkan tak sedikit. Beranjak dari kondisi itulah, terang Joni, Yayasan Raudlatul Makfufin mencoba merintis usaha mencetak Al-Qur’an braile.

Pertimbangannya karena para pekerja yang ikut dari kalangan penyandang tuna netra. Pengelola yayasan akhir memutuskan mengirim proposal kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Joni bilang, bantuan mesin cetak pun terealisasi, dan roda usaha yang coba dikelola yayasan mulai berjalan. Tertatih, jalan setapak demi tapak berujung manis.

Kini usaha percetakan kitab suci bagi umat muslim itupun mampu bertahan hingga sekarang. “Kami ingin, para tunanetra memiliki media untuk membaca quran,” terang Joni.

Jika harus dijual kepada tunanetra, katanya, tentu tak banyak yang bisa beli. Bahkan bisa jadi, tak ada satu pun tunanetra yang bisa meraih quran dengan huruf khusus tunanetra itu.

Sebab, untuk mengganti uang cetak yaitu kertas dan tenaganya dibutuhkan paling tidak duit sebesar Rp1,5 juta per satu set quran.

Besarnya harganya memang cukup wajar. Sebab, cetakan quran hasil mesin braile itu dicetak di atas kertas tebal. Tak itu saja, untuk satu quran juga dibuat 30 buku.

“Kalau quran biasa, dibukukannya satu buku 30 juz, kalau quran braile dicetak satu juz-satu juz,” kata Joni.

Selain itu, mesin itu juga belum ada yang bisa buat di Indonesia, pada saat itu. Makanya, harga mesin tersebut cukup membubung sebesar Rp1,5 miliar.

Tapi kini, Institut Teknologi Surabaya juga sudah bisa membuat mesin itu. Sehingga, jika membutuhkan mesin cetak baru, cukup merogoh duit sebesar Rp 500-Rp600 jutaan.

“Mungkin kalau kita beli lagi, akan disuplay dari ITS, karena mereka juga kerja sama sama dengan Mendikbud,” terang Joni.

Dikembangkan bersama 9 orang, sejak 1983. sekarang, tinggal saya sendiri. Kebanyakan sudah meninggal. Namanya, Ketuanya HM Soleh, nama-namanya lupa lagi. Tunanetranya ada 7, yang melihat ada dua.

Dari donatur yang membiayai penyetakan quran, yayasan itu bisa mengembangkan yayasan membiayai operasional. Joni juga mengakui, terbantu dengan adanya percetakan itu di yayasan mereka.

Seiring berjalannya waktu, penyetakan quran di tempat itu membuat yayasan ini semakin dikenal oleh banyak kalangan. Termasuk, tunanetra muslim yang ada di Singapur dan Turki. Dua negara ini, kini memesan quran dari Yayasan Makfufin.

“Singapur sudah meminta 300 quran, kalau Turki baru meminta contohnya,” jelasnya. **Baca juga: Pilkada Tangsel 2015, Airin Maju dengan Bismillah.

Selain itu, kerja sama yang tengah dijajaki oleh yayasan itu dengan muslim di Afrika Selatan. Saat ini, ada satu santri dari yayasan itu yang tengah berbagi pengalaman dan ilmu di benua hitam itu.

“Saat ini, ada donatur satu dua yang terus memberikan santunan. Alhamdulillah, sehari-hari kadang juga ada yang memberikan bantuan barang,” terangnya.(yud)

**Baca juga: Apartemen Kota Ayodhia Diyakini Bakal Jadi Biang Banjir.

Berita Terbaru