oleh

BMKG : Virus Corona Tak Kuat Dengan Suhu Panas

Kabar6-Kepala (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) Kelas I Tangerang, Suwardi menyebutkan virus corona atau covid-19 tidak akan kuat dengan suhu panas.

Hal itu berdasarkan penilitian yang dilakukan kajian yang dilakukan Tim BMKG bersama Mikrobiologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM. Penelitian dilakukan untuk mencari tahu pengaruh antara cuaca dan iklim dengan pendemi covid-19. Hasilnya seperti yang telah dirilis BMKG pusat, jika pada kondisi cuaca panas, virus covid-19 ini akan hancur dengan sendirinya.

“Ya, benar. Tidak akan kuat bertahan hidup dengan suhu panas,” terang suwardi kepada Kabar6.com, Sabtu (4/4/2020).

Untuk lebih jelasnya, sambung Suwardi, masyarakat bisa mengaksesnya melalui siaran pers yang dikeluarkan oleh BMKG pusat, pada hari Jumat (3/4/2020) kemarin.

Hasil kajian itu menyebutkan analisis statistik dan hasil pemodelan matematis di beberapa penelilitian yang dilakukan mengindikasikan, bahwa cuaca dan iklim merupakan faktor pendukung untuk kasus wabah ini berkembang pada outbreak yg pertama di negara atau wilayah dengan lintang tinggi, tapi bukan faktor penentu jumlah kasus, terutama setelah outbreak gelombang yang ke dua.

Disampaikan pula bahwa kondisi cuaca/iklim serta kondisi geografi kepulauan di Indonesia, sebenarnya relatif lebih rendah risikonya untuk berkembangnya wabah COVID-19.

Indonesia yang terletak di sekitar garis khatulistiwa dengan suhu rata-rata berkisar antara 27- 30 derajat celcius dan kelembapan udara berkisar antara 70 – 95%, dari kajian literatur merupakan lingkungan yang cenderung tidak ideal untuk outbreak COVID-19.

Meningkatnya kasus pada gelombang saat ini seperti terjadi di Indonesia tampaknya lebih kuat dipengaruhi oleh pengaruh pergerakan atau mobilitas manusia dan interaksi sosial.

**Baca juga: Banten Memasuki Musim Kemarau di Tengah Wabah Corona.

Sehingga akhirnya Tim BMKG-UGM merekomendasikan berdasarkan fakta dan kajian terhadap beberapa penelitian sebelumnya, agar mobilitas penduduk dan interaksi sosial dapat dibatasi, selain masyarakat dihimbau untuk terus menjaga kesehatanya mengahadapi pendemi cobid-19 seperti saat ini.(Den)

Berita Terbaru