oleh

Berlebihan Konsumsi Kue Lebaran Dapat Turunkan Kekebalan Tubuh

Kabar6-Selain ketupat dan opor ayam, Lebaran selalu identik dengan kue-kue kering berbagai rasa. Ya, aneka kue yang tersaji sebagai hidangan lebaran memang sangat menggoda, sehingga seringkali Anda tidak sadar makan secara berlebihan.

Namun di balik kelezatannya, umumnya kue lebaran memiliki karakter yang manis ini tinggi kalori, minim serat dan kandungan zat gizi mikro. Lantas, bagaimana hubungan antara kue-kue kering tadi dengan masa pandemi yang sekarang kita hadapi?

Makanan tinggi kandungan gula dan kalori, melansir Sindonews, meningkatkan risiko terjadinya stres oksidatif dalam tubuh. Stres oksidatif adalah kondisi di mana jumlah radikal bebas di dalam tubuh melebihi kapasitas tubuh untuk menetralkannya. Kue lebaran yang umum sekali dikonsumsi masyarakat salah satunya adalah kue nastar. Satu buah kue nastar, sekira lima gram, mengandung sekira 26 kalori, di mana 65 persennya adalah karbohidrat.

Apabila mengonsumsi nastar 10 buah, maka kalori yang diperoleh sebesar 260 kalori, melebihi kalori yang didapat dari satu centong penuh nasi seberat 100 gram (180 kalori).

Kue-kue lebaran merupakan makanan sumber karbohidrat dengan indeks glikemik tinggi dan meningkatkan stres oksidatif. Diketahui, risiko terinfeksi SARS-Cov-2 meningkat pada orang yang mengalami stres oksidatif dalam tubuh. Stres oksidatif meningkatkan risiko terjadinya inflamasi dalam tubuh.

Kue-kue lebaran yang banyak dikonsumsi masyarakat adalah makanan sumber kalori dan hampir tidak mengandung serat sama sekali. Padahal, pola makan yang tinggi kalori tanpa diiringi dengan asupan serat, cepat meningkatkan berat badan. Ditambah masa karantina mandiri di rumah sebagai salah satu upaya physical distancing umumnya menyebabkan kurangnya aktivitas fisik, apalagi tanpa diiringi olahraga rutin di rumah.

Temuan terbaru di beberapa Rumah Sakit di USA menunjukkan, tidak hanya lansia yang dominan menjadi pasien COVID-19 di ruang ICU, banyak pasien COVID-19 dengan usia lebih muda di ruang ICU.

Penelitian terhadap 265 pasien COVID-19 yang telah dipublikasikan di jurnal internasional Lancet menunjukkan, rata-rata pasien yang lebih muda memiliki masalah kegemukan dan obesitas. Kegemukan dan obesitas sendiri menyebabkan prognosis yang buruk bagi pasien COVID-19.

Jadi, penting untuk memantau berat badan secara periodik dalam menyikapi potensi meningkatknya konsumsi kue-kue manis secara berlebihan di Hari Idul Fitri dan kurangnya aktivitas fisik di masa karantina mandiri.

Penelitian terkait respon imunitas terhadap makanan tinggi gula menunjukkan, semua bentuk karbohidrat (pati atau gula) dapat mengurangi keefektifan sel darah putih dalam menghancurkan bakteri dan virus.

Ketika imunitas tubuh rendah, maka tubuh mudah terinfeksi SARS-Cov-2 (virus dari Covid-19) yang menyerang sel limfosit T. Limfosit adalah salah satu jenis sel darah putih/leukosit yang ada dalam peredaran darah.

Sel darah putih berfungsi membantu melindungi tubuh terhadap penyakit dan melawan infeksi bakteri dan virus. Hasil penelitian, setelah puasa semalam kemudian konsumsi 100 gram karbohidrat (gula atau pati), menunjukkan semua bentuk karbohidrat (pati atau gula) mengurangi keefektifan sel darah putih dalam menghancurkan bakteri dan virus.

Leukocytic index (LI), yaitu ukuran seberapa banyak mikroorganisme yang dapat dimakan oleh satu sel leukosit dalam 1 jam, menurun hingga 50 persen dari kondisi awal puasa selama semalam. Dibutuhkan waktu lebih dari lima jam untuk LI kembali menjadi normal.

Sel leukosit/darah putih akan terus tertekan dan tidak dapat melakukan kerjanya menghancurkan virus dengan optimal bila terus menerus atau secara berlebihan mengkonsumsi makanan tinggi pati atau gula, seperti konsumsi kue lebaran, yang banyak orang mengganggapnya sebagai makanan ringan yang dapat dimakan kapan saja tanpa menghitung jumlah porsi dan dapat dikonsumsi terus menerus.

Pada dasarnya, asupan karbohidrat penting dan bermanfaat untuk kebutuhan energi kita bila dikonsumsi sebagai bagian dari pola gizi seimbang. Karbohidrat bisa menjadi ‘racun’ jika dikonsumsi tidak sesuai dengan pola gizi seimbang.

Karbohidrat dapat berupa jenis gula sederhana/monosakarida, oligosakarida, dan polisakarida. Gula sederhana seperti sukrosa (gula pasir) yang banyak digunakan untuk membuat kue-kue lebaran memiliki indeks glikemik yang tinggi.

Jenis polisakarida atau karbohidrat kompleks yang dapat menurunkan stres oksidatif adalah serat yang dapat diperoleh dari serealia/biji-bijian utuh, kacang-kacangan, buah-buahan dan sayuran. ** Baca juga: Kurangi Penggunaan Sendok Plastik untuk Kesehatan

Karena itu, Anda disarankan bijak mengonsumsi kue Lebaran saat pandemi COVID-19. Hitung dan batasi berapa buah kue yang dikonsumsi, sajikan kacang-kacangan (tidak digoreng) dan buah-buahan sebagai makanan ringan di hari raya untuk mempertahankan dan meningkatkan imunitas tubuh Anda di tengah pandemik.(ilj/bbs)

Berita Terbaru