oleh

Benarkah Tiongkok Ambil Alih Bandara Internasional Uganda Karena Gagal Bayar Utang?

Kabar6-Bandara Internasional Entebbe, satu-satunya bandara internasional yang dimiliki Uganda, dilaporkan telah diambil alih oleh Beijing Tiongkok karena gagal membayar pinjaman sebesar US$200 juta yang digunakan untuk memperluas bandara.

Laporan pengambilalihan bandara itu, melansir Sindonews, merujuk pada ‘klausul beracun’ tertentu dalam perjanjian pinjaman yang ditandatangani oleh pemerintah Uganda dengan Bank Ekspor-Impor (Exim) Tiongkok pada 31 Maret 2015.

“Beberapa ketentuan yang tidak menguntungkan dalam perjanjian pinjaman yang ditandatangani Uganda dengan Bank Ekspor-Impor (Exim) Tiongkok pada tanggal 31 Maret 2015, jika tidak diubah, mengekspos aset kedaulatan Uganda ke lampiran dan mengambil alih atas putusan arbitrase di Beijing,” demikian bunyi laporan The Monitor yang berbasis di Uganda, yang dilansir The Print.

Dalam laporan disebutkan, “Penyelidikan kami menemukan bahwa setiap proses terhadap aset Otoritas Penerbangan Sipil Uganda (UCAA) oleh pemberi pinjaman tidak akan dilindungi oleh kekebalan kedaulatan karena pemerintah Uganda, dalam kesepakatan 2015, melepaskan kekebalan pada aset bandara.”

Uganda, sambung laporan tersebut, telah mengirim delegasi 11 anggota ke Beijing untuk merundingkan kembali beberapa klausul kesepakatan dengan Bank Exim, tetapi gagal dalam misi mereka.

Tim yang dipimpin oleh Dr Chrispus Kiyonga, Duta Besar Uganda untuk Tiongkok, mencakup anggota dari Kementerian Pekerjaan, Luar Negeri, dan Keuangan, serta UCAA dan Kamar Jaksa Agung. Juru bicara UCAA dan direktur jenderal Tiongkok untuk Urusan Afrika telah menolak laporan pengambilalihan bandara tersebut.

Menurut laporan The Monitor, eksekutif Bank Exim menolak amandemen terhadap klausul perjanjian, menambahkan bahwa mereka tidak melihat alasan untuk menjamin amandemen tersebut. ** Baca juga: Cacat Tulang Belakang, Wanita Ini Tuntut Dokter Kandungan yang Dulu Tangani Kehamilan Ibundanya

Pejabat UCAA dilaporkan menandai hingga 13 klausul dalam perjanjian sebagai ‘tidak adil’ dan mengikis ‘kedaulatan Uganda’. Ketentuan tersebut dilaporkan antara lain menyerahkan persetujuan anggaran, induk dan rencana strategis UCAA kepada Bank Exim di Beijing.

Laporan tentang pengambilalihan Bandara Internasional Entebbe muncul di tengah kekhawatiran atas apa yang digambarkan sebagai diplomasi ‘jebakan utang’, Tiongkok menawarkan pinjaman kepada negara-negara berkembang dengan persyaratan yang memungkinkan pengambilalihan aset jika terjadi gagal bayar.(ilj/bbs)

Berita Terbaru