oleh

Benarkah Kecanduan Belanja Online Termasuk Gangguan Mental?

Kabar6-Seiring perkembangan zaman, segala sesuatunya menjadi serba cepat, seperti memesan makanan, minuman, bahkan berbelanja kebutuhan sehari-hari.

Hanya menuliskan barang-barang apa saja yang diinginkan, dan tinggal duduk manis, barang pun sampai di rumah. Ya, belanja melalui online banyak dilakukan orang, terlebih bagi mereka yang tergolong sibuk, sehingga tidak sempat mampir ke toko atau supermarket.

Di sisi lain, beberapa orang melakukan belanja online dan membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Misalnya, belanja barang promo ataupun cashback menarik

Artinya, mereka belanja bukan berdasarkan kebutuhan. Apakah kecanduan belanja seperti ini termasuk gangguan mental? Sebuah studi dalam jurnal Comprehensive Psychiatry, melansir Dreamers, mencatat dari 122 orang yang mengalami ‘Buying-Shopping Disorder (BSD)’ atau gangguan pembelian-belanja, 34 persen di antaranya memiliki gejala kecanduan belanja online.

Para peneliti studi juga menemukan, mereka yang kecanduan belanja online cenderung menderita depresi dan kecemasan. Menurut penelitian tersebut, BSD ditandai dengan kesenangan yang berlebihan dengan keinginan untuk berbelanja, dan keinginan yang tidak dapat dikontrol untuk memiliki barang-barang yang ingin dibeli.

Para peneliti yang berasal dari Hannover Medical School, Jerman, kemudian mengusulkan agar BSD ditetapkan sebagai kondisi kesehatan mental tersendiri.

Studi tersebut juga menekankan bahwa BSD terjadi sekira lima persen pada orang dewasa di negara-negara berkembang. ** Baca juga: Waspadai 5 Penyakit yang Sering Berjangkit di Sekolah

Diketahui, BSD ditandai dengan berbelanja ketika merasa marah atau frustrasi, tidak memiliki kontrol terhadap kebiasaan berbelanja, memiliki konflik dengan orang-orang terdekat akibat perilaku belanja mereka, merasa bersalah dan malu setelah berbelanja, dan mengalami kecemasan dan euforia saat berbelanja.

Pernahkan Anda mengalami hal seperti itu?(ilj/bbs)

Berita Terbaru