oleh

Bantuan Tak Ada, Kisah Buruh Kuli Emping Melinjo Bangun Rumahnya yang Ambruk

Kabar6-Pasangan Suami Istri (Pasutri) Rukman dan Hatmah di Kabupaten Pandeglang tengah kebingungan untuk menyelesaikan rumah mereka yang ambruk hingga rata dengan tanah pada bulan Oktober 2020 lalu. Bantuan rumah untuk warga kurang mampu ini tak di dapat dari pemerintah.

Rukmah dan Hatmah tinggal di Kampung Curug, Desa Babakanlor, Kecamatan Cikedal. Rukman tiap hari hanya bekerja sebagai kuli panggul kayu sedang istrinya Hatmah hanya sebagai buruk kuli emping melinjo.

Penghasilan dari keduanya belum cukup untuk membangun tempat tinggal yang layak. Rukman hanya mendapatkan Rp 70 ribu setiap hari itu pun tidak rutin bekerja setiap hari di Panglong tetangganya. Sedangkan Hatmah hanya bisa menghasilkan 2 kilo emping saat membuat Emping yang di bayar oleh tetangganya Rp 5-6 ribu tiap kilo.

Pasca ambruk, Rukman dan Hatmah dan ketiganya harus tinggal dengan orang tuanya beberapa bulan, karena tak bisa membangun rumah. Dengan modal nekad, Rukman meminjam uang kepada keluarganya untuk membangun rumahnya kembali supaya keluarganya memiliki tempat tinggal.

“Mau bangun gak ada uang, akhirnya pinjam sama keluarga,” ungkap Lukman, Jumat (8/4/2021).

Usai melakukan pinjaman, akhirnya ia bisa membangun rumahnya di bagian dapur lainnya berbentuk L dengan kontruksi semi permanen. Di bagian L itu lah dijadikan keluarga Rukman beristirahat. Ada atap terpal yang terpasang di bagian rumahnya, hal itu menahan panas dan hujan masuk ke rumahnya.

“Ya kalau tidurnya di sini,”tujuk Rukman.

Sementara Hatmah mengungkapkan penghasilan suami sebagai pikul kayu dan pendapatan dari kuli buruh emping melinjo tak menentu. Itu pun hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan jajanan ketiganya anaknya.

” Boro-boro buat memperbaiki rumah, kadang juga buat bayar utang. Kalau hasil dari ngemping juga gak cukup, pake jajan anak juga habis soalnya satu hari itu itu paling dapat 2 kilo” terangnya.

Sejak rumahnya ambruk lanjut Hatmah, sudah beberapa kali dirinya di minta foto copy kartu keluarga dan KTP baik pihak Kecamatan dan Desa sebagai syarat pengajuan bantuan rumah. Namun hingga kini belum ada informasi kembali terkait usulan bantuan perbaikan rumah tersebut.

“Ngumpulin KK dan KTP sudah, katanya mudah-mudahan dapat bantuan, tapi sampai sekarang belum ada saja, apa mungkin belum saya kurang tahu pasti,”jelasnya.

Diketahui, keluarga ini sudah tercatat sebagai penerima Bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Untuk itu keluarga berharap memiliki tempat tinggal yang layak dari ukuran tangan pemerintah.

“Mengharapkan sih dapat bantuan sih karena kita belum mampu, sebab itu juga bisa memperbaiki dapur dapat ngehutang,”tutupnya.

Camat Cikedal Deni Kurnia mengaku sudah mengajukan bantuan rumah bagi warganya ke beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Pandeglang, termasuk rumah milik Hatmah.

Namun Deni belum bisa memastikan usulan bantuan rumah untuk Hatimah bisa terealisasi tahun ini, sebab pengajuannya berada di ujung tahun. Untuk itu, Deni terlebih dulu akan berkoordinasi dengan instansi terkait.

**Baca juga: Ditinggal Pemilik ke Sawah, Rumah Beserta Isinya di Cibaliung Pandeglang Ludes Terbakar

“Iya itu prosesnya di dinas teknis,hanya mungkin ga bisa masuk tahun ini,karena usulannya masuk di akhir tahun, kemungkinan msuk tahun depan. Nanti saya coba koordinasikan kembali kejelassanya ke Dinsos atau Perkim,”tandasnya.(Aep)

Berita Terbaru