oleh

2020 Angka Kemiskinan di Tangsel Capai 31 Ribu Kepala Keluarga

Kabar6-Kepala Dinas Sosial Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Wahyunoto Lukman pastikan angka kemiskinan 2021 naik dari tahun sebelumnya. Kenaikan dipicu karena pandemi Covid-19 yang berkepanjangan.

“Kalau kemiskinan saya pastikan naik, kala uangka berapa persennya itu silahkan konfirmasi ke BPS. Berapapun BPS menyebutkan angka kemiskinan kami tidak terpengaruh, pada prinsipnya sekarang mekanisme pendataan keluarga miskin ada dua. Bisa mekanisme pendataan mandiri, bisa kita yang mempunyai program kegiatan verifikasi,” terangnya, Minggu (27/6/2021).

Ia menerangkan, dinas sosial hanya mengelola data dan mencari keluarga-keluarga yang tidak mampu. Mereka yang memang masuk dalam keluarga tidak mampu atau miskin akan dimasukan ke data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS).

Wahyunoto menyampaikan, pada 2020 berdasarkan data Kementrian Sosial (Kemensos) angka kemiskinan di Kota Tangsel mencapai 62 ribu jiwa. Dengan jumlah kepala keluarga sekitar 31 ribu KK.

“Kalau data tahun ini kita masih input terus, kita masih verifikasi terus. Oleh kemensos itu ditetapkannya per triwulan, seharusnya kemarin April sudah ada ketapapan angkanya berapa tapi mungkin dinamika dan lain-lain sampai saat ini kita belum mempunyai ketetapan,” ujarnya.

Wahyonoto pastikan angka kemiskinan di Kota Tangsel naik. Berdasarkan data yang dimiliki angka kemiskinan di 2021 naik sekitar 2 sampai 3 persen dari data tahun 2020.

“Itu kita belum mempadu padankan dengan rilis angka dari BPS. Itu data dari RT/RW yang memang diusulkan untuk mendapatkan bantuan sosial. Kita verifikasi dan memang mereka layak mendapatkan bantuan sosial. Dia belum masuk ke data kita, kita input,” teranyanya.

**Baca juga: Pilar Saga Kunci Cafe Ciputri di Ciputat Langgar PPKM Mikro

Menurut dia, tidak menutup kemungkinan kenaikan angka kemiskinan terus bertambah. Sebab, bisa jadi masih banyak yang belum masuk ke dalam datanya.

Terlebih pandemi Covid-19 masih terus terjadi. “Meningkatnya sudah pasti dampak pandemi. Karena pembatasan-pembatasan kegiatan kegiatan usaha. Kegiatan berkerumun juga, orang mau dagang di tempat ramai juga sekarang sudah tidak boleh ada keraimaian,” ujarnya.(yud)